Sunday, August 15, 2010

NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal

Ahmad Baso (Erlangga, 2006)

Sinopsis
Buku ini memperkenalkan satu terobosan baru dalam pemikiran Islam di Indonesia. NU Studies, demikian terobosan itu disebut, merupakan himpunan tradisi, pencerahan dan kritisisme, yang berakar dalam khazanah kognitif dan praksis mayoritas umat beragama di Nusantara. Sebagai sebuah metodologi, NU Studies adalah perpaduan hibrid antara tradisi Aswaja, praksis kebangsaan dan keindonesiaan, dan kritik Poskolonial.

NU Studies hadir dalam konteks kampanye “perang melawan terorisme”, “benturan peradaban”, dan “perang ide-ide” (war of ideas) yang dilancarkan Imperium AS, di satu pihak, dan dalam konteks “al-ghazw al-fikri” (invasi pemikiran) yang diusung kelompok gerakan Islam kanan di pihak lain. Muncul tarik-menarik di antara kedua kutub ini, antara menjadi moderat-liberal atau menjadi Islami (plesetan dari “fundamentalisme” dan “radikalisme”). Di sini agama menjadi lahan eksploitasi dan komodifikasi.

Kedua kutub tersebut sama-sama menampilkan penyeragaman cara berpikir, yang menyempal dari tradisi beragama dan kultural bangsa Indonesia. Satu kutub berkiblat ke pusat neo-liberal di AS; sementara kutub lainnya berkiblat ke Saudi Arabia. Yang pertama berbicara tentang liberalisasi Islam, dengan menggerus potensi kritis Islam sebagai agama populisme dan pembebasan. Sementara yang terakhir berbicara tentang pemurnian agama dan puritanisasi tatanan sosial-politik Indonesia, dengan mengabaikan kenyataan bahwa “kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam”, dan bukan “orang Islam yang tinggal di Indonesia”.

Dalam konteks komodifikasi dan penyeragaman seperti inilah, NU Studies hadir. Ia muncul untuk membuka wawasan Anda, dengan berbagai pilihan dan perspektif. Ia berusaha keluar dari “dogma” dikotomi-Manichean yang dipaksakan oleh wacana imperial “Benturan Peradaban”. Ia hadir mengkomunikasikan warna-warni kehidupan dalam memandang agama, realitas politik, ekonomi, dan kebangsaan. Ia membuka ruang dialog dan diskursus rasional, dan bukan fundamentalisme, teriakan, atau ancaman.

Ahmad Baso, penulis buku Civil Society versus Masyarakat Madani (Pustaka Hidayah, 1999), Post-Tradisionalisme Islam (LKiS, 2000), Plesetan Lokalitas: Politik Pribumisasi Islam (Desantara, 2002), dan Islam Pasca-Kolonial: Perselingkuhan Agama, Kolonialisme dan Liberalisme (MIZAN, 2005).

No comments:

Post a Comment