Tuesday, February 22, 2011

Bangsa & Ideologi Transnasional

Dr KH A Hasyim Muzadi

Serangan terorisme yang meluluhlantakkan gedung terjangkung dunia, twin tower World Trade Center (WTC), di AS, 11 September 2001, setidaknya menimbulkan dua model ancaman dunia.

Pertama, ancaman radikalisme dan fundamentalisme yang bisa timbul dari agama apa pun dan dari mana saja. Kedua, ancaman liberalisme yang menghalalkan segala cara untuk meraih prestisius, kemewahan, dan kekuasaan yang mesti berhadapan dengan kelompok pertama yang meneguhkan konservatisme agama. Bangsa Indonesia sebenarnya sudah mempunyai jati diri bangsa, yaitu ideologi Pancasila. Karena itu, dalam konteks menghadapi ancaman dua arus besar ini, mestinya kita harus mempertegas Pancasila sebagai ideologi nasional.

Sebagai subkultur, NU sejak awal selalu mengawal dan memegang prinsip menegakkan jati diri bangsa. Islam ala NU adalah Islam ahlusunnah waljamaah (aswaja) yang berkarakter nusantara. Secara usia organisasi NU, memang mencapai 80-an tahun. Namun, secara kultur ia sudah sama tuanya dengan masuknya Islam sejak pertama di nusantara ini. Semangat keagamaan NU adalah Islam seperti yang diajarkan oleh Wali Songo. Maka, memelihara watak dan karakter bangsa dan negara bagi NU sama dan sebangun dengan memelihara ajaran NU itu sendiri.

Ideologi Transnasional

Perbenturan peradaban (clash of civilizations) dalam istilah Samuel Huntington, sebenarnya adalah perbenturan ideologi-ideologi besar di dunia yang pada awalnya merupakan gerakan pemikiran yang kemudian diikuti dengan agenda aksi secara fisik.Terjadinya perbenturan ini adalah akibat buntunya dialog yang dibangun oleh berbagai ideologi sehingga perbedaan pemikiran berlanjut menjadi perbedaan lewat aksi kekerasan fisik.

Tersebarnya ideologi liberalisme Barat sejak abad pertengahan dibarengi dengan model-model imperialisme di negara-negara Islam di Timur Tengah. Setelah sebelumnya liberalisme di Barat sendiri berhasil menaklukkan agama-agama di Barat. Kesuksesan ini diekspor ke negara-negara Timur Tengah sehingga Khilafah Islamiyah mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah hingga Turki Usmani tumbang satu per satu. Termasuk terjajahnya Indonesia oleh Belanda hingga mencapai 350 tahun.

Muncul gerakan Islam ideologis di Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tharir, Majelis Mujahidin,Al- Qaeda,dan sebagainya adalah reaksi dari liberalisme berbalut penjajahan ini. Di Indonesia, zaman prakemerdekaan ditandai dengan munculnya organisasi nasionalisme seperti Budi Utomo, Serikat Dagang Islam,Muhammadiyah, dan NU serta lainnya, juga dalam rangka memperkuat nasionalisme kebangsaan mengusir penjajah waktu itu.

Namun, sekarang ini setelah negaranegara jajahan ini merdeka,ideologi itu terus disebarkan sehingga inilah yang membuat Samuel Hutington membuat suatu kesimpulan setelah Perang Dingin usai,akan terjadi perbenturan peradaban. Padahal,yang terjadi sebenarnya bukanlah perbenturan peradaban, tetapi perbenturan kepentingan hegemoni politik dan ekonomi.

NU berpikir, sekarang ini dunia perlu ideologi alternatif untuk menghindari perbenturan-perbenturan global yang akan menimbulkan korban sia-sia. NU menawarkan Islam moderat (tawassuth wal i’tidal) ahlussunna waljamaah. Pak Ud––panggilan akrab almarhum KH Yusuf Hasyim pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang putera Hadratus Syaikh Hasyim Hasyim’ari pendiri NU––sebelum meninggal berwasiat kepada NU lewat saya agar menghadang ideologi liberalisme dari Barat maupun ideologi radikalisme dan kekerasan dari Timur.

Menurut Pak Ud, ideologi transnasional baik dari Barat maupun Timur sama berbahaya.Sebab,liberalisme dari Barat maupun Islam ideologis dari Timur toh sama-sama merusak. Masuknya ideologi transnasional ke Indonesia dapat merusak tatanan NU dan Indonesia. Pemerintah harus menggunakan Pancasila sebagai ideologi yang membatasi masuknya ideologi transnasional. Sedangkan NU harus terus memperkuat pemahaman aswajanya ke seluruh struktur dan kultur di bawah NU. Kami sepakat dengan Pak Ud, kami berkeliling ke Barat dan Timur Tengah untuk mengampanyekan NU sebagai ideologi alternatif.

Kami dari NU adalah pemimpin Islam pertama di dunia yang datang ke “ground zero” di New York,AS (lokasi pengeboman WTC pada 9/11/2001) untuk menolak “kekerasan” dari Islam ideologis. Demikian juga kami datang ke Irak, Iran, dan Palestina untuk menolak “kekerasan”dari liberalisme ala Barat. Kita datang ke Timur Tengah dan melihat ternyata Irak, Iran, dan Palestina menjadi korban ideologi liberalisme Barat.Mereka diibaratkan sebagai binatang aduan seperti jangkrik. Mereka diadu domba intelijen asing agar penjajah dapat kemenangan secara gratis. NU datang ke sana dengan misi membuat perdamaian dan mendorong agar mereka bersatu.

Kami mengampanyekan kepada mereka Islam ala NU kepada dunia bahwa NU melihat Islam adalah agama, bukan ideologi, karena itu apa yang terjadi di Timur Tengah selama ini bukan Islam sebagai agama, tapi ideologi Islam. Dalam mengampanyekan NU sebagai ideologi alternatif,kami meneladani sikap yang telah dilakukan pendiri NU, Hadratusy Syaikh Hasyim As’ari dan KH Wahab Hasbullah. Mereka bertindak sebagai pengekspor ideologi,bukan pengimpor ideologi.

Penguatan Aswaja

Maraknya berbagai macam ideologi transnasional pascareformasi harus diantisipasi oleh seluruh jajaran NU. PBNU menginstruksikan kepada seluruh jajarannya,mulai Lembaga, Lajnah dan Banom di seluruh tingkatan mulai pusat hingga ranting terlibat dalam mempertahankan dan memperkuat ajaran ahlusunnah wal jamaah (aswaja) yang selama ini dijalankan NU. Ini karena dewasa ini sudah banyak anak-anak NU yang tidak mengetahui ajaran aswaja seperti yang diajarkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy- ’ari. Sehingga ada guyonan:

Dulu waktu zaman Pak Idham Cholid dan Buya Hamka, NU dan Muhammadiyah rukun karena sama-sama mengertinya. Sekarang anak-anak muda NU-Muhammadiyah rukun karena sama tidak mengertinya. Jadi yang anaknya orang NU tidak mengerti NU, anaknya orang Muhammadiyah tidak mengerti Muhammadiyah. Akhirnya, hubungan antara NU dan Muhammadiyah mencair dan menyebabkan tradisi yang sebelumnya hanya dilakukan oleh satu kelompok serta menjadi ciri khasnya.

Kini tradisi tersebut juga dilakukan oleh kelompok lain seperti yasinan dan tahlilan yang dulu menjadi ciri khas orang NU, namun sekarang sudah mulai ada orang Muhammadiyah yang menjalankannya. Demikian juga saat ini anak-anak NU lebih senang tarawih 11 rakaat, bukan 23 rakaat, karena didiskon 60% dari jumlah yang seharusnya. Yang lucu dan aneh, ada Festival Salawat Badar di Jawa Timur, yang menang ternyata dari Muhammadiyah. Karena grup NU suaranya jelek, rebananya tidak bunyi. Padahal, tradisi salawat badar itu sejak dulu ciri khasnya NU. Namun, proses mencairnya kultur keagamaan seperti ini mengandung implikasi yang perlu diwaspadai oleh warga nahdliyin karena menimbulkan kerawanan sosial karena anak-anak muda tersebut tidak memahami ajaran seutuhnya sehingga ajaran-ajaran model baru dengan gampang masuk dalam diri mereka.

Dalam konteks ini berlaku hukum: siapa yang lebih dahulu masuk adalah yang menang dan mendapatkan anggota. Untuk itu, gerakan struktural dan kultural NU harus dilaksanakan secara terpadu untuk melawan gerakan transnasional tersebut. Struktur NU mulai dari PBNU,Wilayah, Cabang hingga ranting harus fungsional. Di tingkat ranting harus memiliki anak ranting yang berbasis masjid dan musala yang ada di desa itu dan masing-masing bertanggung jawab untuk mengawasi masjid. Karena ideologi transnasional ini akan bergerak dari tempat-tempat ini untuk merobohkan stelsel nasional kita: Aswaja dan ideologi nasional Pancasila. Wallahu- ’alam bishshawab. *

Dr KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, President World Conference on Regions for Peace (WCRP)

Dimuat di Koran Sindo, Rabu, 09/05/2007

No comments:

Post a Comment