Thursday, February 10, 2011

Ajaran Kearifan Tiga Guru Sufi Jawa

24/05/2010

Judul Buku : Tiga Guru Sufi Tanah Jawa
Penulis : H. Murtadlo Hadi
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : 1, Februari 2010
Tebal : 250 halaman
Peresensi : Ahmad Hasan MS*)

Sosok ulama atau kiai lazim dikenal karena suri teladannya, yatiu bagaimana praktek syariat itu menjadi laku (amal) sehari-hari. Di samping itu, sosok kiai pun bisa menempati ruang khusus di hati umat karena pernyataan-pernyataan, wasiat-wasiat atau wejangan- wejangan mereka kepada oreang terdekat dan para santri serta masyarakat. Wajar bila kiai oleh KH Aziz Mashuri menjadi penyangga kazanah kebudayaan islam yang adiluhung.

Buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawa berusaha memaparkan “wejangan ruhani” atau pesan-pesan spiritual dari tiga sosok kiai tanah jawa; Syaikh Muslih Bin Abdur Rahman al-Maraqy (Mranggen Demak), Syaikh Romli Tamim (Rejoso Jombang) dan Syaikh Dimyathi Bin Muhammad Amin al-Bantany (Cidahu Banten). Pesan-pesan spiritual dari tiga tokoh yang menjadi maha guru (mursyid) di tanah jawa ini menyimpan semacam doktrin sufistik Ala Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandsiyah dan Thariqah Syadziliyah.

Dalam buku ini penulis membagi dalam tiga bagian ihwal wejangan tiga guru sufi termasyhur di jagad jawa ini. Pada bagian pertama dijelaskan mengenai wejangan ruhani dari Abuya Dimyathi. Abuya Dimyathi merupakan ulama kharismatik dari Banten. Wejangan spiritualnya mampu menjadi peneduh terhadap dahaga umat. Wejangan-wejangan Abuya memiliki kualitas tinggi sebagai obat bagi jiwa yang sakit, oase bagi jiwa yang gersang sekaligus Nur ilahiyah yang menguasai kerajaan hati, dengan berjuta-juta malaikat berjaga disana, yang bisa mengusir gelap (zhulumat) dan setan serta bala tentara (junudus syaithon) dari hati manusia.

Dalam Wejangannya, menjadi mursyid thariqah tidak asal begitu saja, melainkan melalui syarat tertentu. Setidaknya, ada tiga syarat menjadi seorang Mursyid. Pertama, seorang mursyid ketika menjadi pembimbing spiritual dan penunjuk jalan haruslah matang dalam menguasai ilmu para ulama. Kedua, seorang mursyid juga harus memahami memahami hikmah dari orang-orang yang sudah Ma’rifat Billah. Ketiga, seorang mursyid menguasai pula taktik dan strategi yang diterapkan penguasa (raja atau pemimpin politik).

Tiga kriteria ini pertama kali sebenarnya telah dicetuskan oleh pemimpin Thariqah Qadiriyah, yaitu syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Hasil ijtihad Syaikh Abdul Qadir Jailani itu dicatat oleh Syaikh Abi Ja’far al- Barzanji dalam kitab Lujainid Dany. Karena nilai universalnya, menurut penulis berlaku di setiap gerakan tarekat hingga sekarang. Criteria ini mengharuskan ulama yang benar-benar alim, ahli ibadah dan hikmah serta giat membimbing dan mendekat pada umat.

Secara khusus, Abuya Dimyathi juga memiliki risalah yang diperuntukkan untuk umat dalam menekuni Thariqat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Di antaranya risalah ashl al-qadar yang berisi tentang nama-nama sahabat ahli perang badar beserta ajaran kearifannya. Juga kitab Rasn Al-Qasar yang menjelaskan tentang pentingnya Hidzib Nashr. Juga kitab hadiyyah al-jalaliyyah yang menjelaskan ihwal sanad, karakteristik Thariqah Syadziliyah, dan kepantasan untuk para salik dalam bertaqarrub kepada Allah.

Pada bagian kedua berisi tentang wejangan ruhani Syaikh Romli Tamim, Rejoso, Jombang, ulama kharismatik yang mennadi mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Salah satu buah karya Syaikh Romli adalah Tsamnrah al-Fikriyah yang berisi tentang doktrin sufistik bagi ahli thareqat dan tasawuf. Dalam wejangannya, Syaikh Romli mengatakan bahwa jalan untuk wushul (ma’rifat billah) bagi para santri Thariqah adalah dengan cara serius melaksanakan tiga hal berikut.

Pertama, mengembangkan Dzikir Khafi (dzikir samar) atau dzikir dalam hati. Caranya dengan menghadirkan hati secara total senantiasa ingat Allah dalam keadaan apapun. Kedua, muraqabah, yaitu senantiasa berusaha mengejar dan mendekat kepada Allah. Dalam wukuf di hadrah ilahiyah, santri thareqah mesti senantiasa berharap dengan prasangka baik (Khusnudzon) terhadap anugerah yang diberikan Allah.

Ketiga, dengan jalan khidmah (pengabdian), yaitu setia menjadi pelayan bagi guru yang telah memberikan Talqin Dzikir, kaifiyah, dan Jam’iyyah serta juga bersedia menyediakan diri untuk menjadi pelayan bagi santri-santri yang lain. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan sekaligus berusaha bermanfaat bagi sesama. Tiga jalan ini dilakukan secara ikhlas dan istiuqomah dengan berserah total kepada Allah.

Pada bagian ketiga, penulis menjelaskan ihwal wejangan ruhani Syaikh Muslih Mranggen. Syaikh Muslih Mranggen dikenal sebagai mursyid Thareqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah yang memiliki kedalaman ilmu dan kejernihan hati. Salah satu karyanya yang cukup populer adalah Futuhat Rabbaniyah yang menguraikan doktrin sufistik menuju tersingkapnya Ma’rifat Ilahiyah. Karya lainnya yang juga tak kalah populer adalah an-Nur al-Burhani yang merupakan syarah (penjelasan kitab Lujain ad Dani) karya Syaikh Abi Ja’far al-Brzanji yang meriwayatkan biografi Sulthan Al-Auliya Syaikh Abdul Qadir Jailany.

Dalam Futuhat ar-Rabbaniyah, Syaikh Muslih secara detail menjelaskan tentang tata cara santri dalam menjalankan thareqah, terutama doktrin yang ia sebut sebagai “ Mabadi Ilmi Ath Thariqah yang membahas landasan thariqah qadiriyah wa naqsyabandiyah. Salah satu untaian hikmahnya adalah berfiqh harus dibarengi dengan tasawuf. “Barang siapa yang semata berpegang pada formalitas fiqh, tanpa praktek tasawuf, maka seorang itu bisa terjatuh pada perilaku fasiq. Dan barang siapa mencoba-coba bertasawuf tanpa tuntunan syara’ maka ia bisa jatuh dalam kafir zindiq. Dan barang siapa bertasawuf dan menjalankan tuntunan syara’(fiqh) maka ia akan sampai pada hakekat dan kesejatian”.(hal 203).

Buku ini menarik dibaca bagi siapa saja ingin mengenal lebih dekat ihwal warisan tiga ulama besar sufi jawa beserta ajaran dan selub beluk kehidupannya. Namun pembaca jangan lantas kecewa sebab buku ini bukanlah biografi khusus melainkan sekedar serpihan pemikiran dan untaian hiikmah yang menyejukkan. Sebuah buku yang memuat ajaran kearifan tiga guru sufi jawa yang terus dikenang sepanjang masa.

*) Peresensi adalah Santri Hasyim Asy’ari Yogyakarta. Aktif juga di PWNU DIY

Retrieved from: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=23546

No comments:

Post a Comment