Tuesday, February 15, 2011

Akar Pemikiran Politik Gus Dur

01/03/2010

Judul Buku : Pemikiran dan Sikap Politik Gus Dur
Penulis : Dr. Ali Masykur Musa
Penerbit : Erlangga, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : vii + 162 halaman
Peresensi : Mashudi Umar*


Pencetus humor “Gitu aja ko’ repot” tiada habisnya untuk dibicarakan, didiskusikan dari berbagai perspektif oleh anak bangsa termasuk ketika Gus Dur menjadi presiden yang dipilih langsung oleh MPR, awal mula “kran” demokrasi dibuka tahun 1998 ini. Gus Dur di panggung kekuasaan adalah sejarah besar bagi warga nahdliyin, sejarah yang ingin diakui oleh generasi penerusnya. Sejarah Gus Dur di panggung kekuasaan berakhir setelah Megawati Suekarno Putri dilantik menjadi Presiden RI ke-5 dalam SI MPR. Barangkali itulah politik, harus rela menghadapi resiko dijatuhkan oleh lawan-lawan politiknya. Dan Gus Dur sudah mendapat resiko paling buruk dilengserkan dari kursi kepresidenan.

Semenjak menjadi Presiden RI, Gus Dur sesungguhnya memiliki sejarah besar membangun demokrasi, kebebasan pers dan berbicara, serta perjuangan hak-hak kaum minoritas. Gus Dur selama berkuasa (1998-2001) telah memberikan wacana yang menarik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Paling tidak, selama kurang dua tahun menjadi presiden banyak sekali sumbangan Gus Dur bagi bangsa ini. Bahkan proyek desakralisasi istana, supremasi sipil, deformalisasi Islam, perebutan tafsir konstitusi menjadi wacana politik yang menakjubkan saat itu. Yang masih dalam catatan kita khususnya anggota DPR saat itu, Gus Dur ketika memberikan sambutan pada sidang paripurna mengatakan bahwa anggota DPR sama dengan “Taman Kanak-Kanak”.

Karena bagi Gus Dur, negara tidak mesti mengatur seluruh aktivitas warga negaranya, sehingga dalam pemerintahannya, kebebasan masyarakat benar-benar berlangsung. Manuver dan aksi politik pun dilakukan secara terbuka. Hal ini terlihat dengan jelas dan konflik yang berlangsung antara presiden dengan DPR, hingga ia harus dilengserkan dalam SI tersebut. Dengan kata lain, liberalisasi politik benar-benar terjadi.

Semuanya ini diberikan kebebasan oleh Gus Dur, karena gagasan progresifnya yang tidak saja disemangati oleh prinsip demokrasi, tetapi juga disemangati oleh pandangan Islam sebagai agama yang inklusif dan dinamis. Islam sebagai agama inklusif tidak bersifat kaku terhadap teks wahyu. Islam telah menyediakan ruang-ruang yang bebas tafsir dan takwil. Itu sebabnya, Gus Dur sangat mendorong perkembangan Islam yang toleran, anti kekerasan yang ditunjukkan dengan kebijakannya yang melindungi kaum minoritas dan tertindas. Bahkan dimana ada kaum minoritas dan tertindas, pasti disitu ada Gus Dur.

Secara kritis, kita juga bisa mengatakan, Gus Dur saat jadi presiden telah melakukan kekeliruan-kekeliruan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kita harus mengakui bahwa ketika Gus Dur berada diluar kekuasaan memiliki gagasan besar kedepan tentang demokrasi dan civil society. Namun setelah berada di istana, Gus Dur seakan lupa dengan gagasan besarnya. Hal ini terlihat dari kebijakan yang sangat kontroversial, ketika Gus Dur mengeluarkan dekrit.

Tak pelak, orientasi dari sikap, kebijakan, dan pemikiran Gus Dur yang sering berseberangan dengan pola pikir yang berkembang di masyarakat dan para elit politik serta bahkan sikapnya yang nyeleneh, membuat ia harus selalu pasang badan. Akan tetapi di balik sikap kontroversi dan kenyelenehannya, Gus Dur sebagai sosok fenomenal dan dengan segala kecerdasan yang dimilikinya, tidaklah mengherankan jika kemudian sosoknya menjadi komoditas penelitian dan topik diskusi, baik bagi rakyat yang dibuat bingung oleh tindakannya maupun para elit politik yang geram karena kebijakan-kebijakannya yang dianggap tidak sesuai dengan sendi ekonomi, politik, budaya dan bahkan konsep agama.

Begitu juga dengan isu-isu keislaman, tak jarang beberapa langkah Gus Dur ini sering disalah tafsirkan, bahkan oleh sebagian umat Islam sendiri. Gus Dur disebut agen zionis Israel, dicap mendukung kristenisasi, diisukan dibaptis, hingga Gus Dur dianggap sebagai orang sesat. Para kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) sendiri pun pernah menyidang Gus Dur di awal tahun 1990-an, karena tersiar kabar Gus Dur ingin mengganti sapaan ”Assalamualaikum” dengan ”selamat pagi”. Menanggapi cercaan dan makian ini, Gus Dur pantang mundur.

Bagi dia membumikan Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan misi utama yang tidak bisa ditawar-tawar. Upaya mewujudkan Islam ramah, toleran, dan pelindung kaum lemah memang tidak semudah membalikkan tangan. Karena dalam pandangan beliau konsep itu menuntut nilai-nilai Islam bersifat universalitas. Ini berarti nilai-nilai Islam harus mampu beradaptasi, selaras dengan seluruh umat manusia yang beragam, baik karena faktor geografis maupun tingkat kebudayaannya. Di sini diperlukan elaborasi lebih jauh nilai-nilai Islam yang terpancar dari Alquran dan hadist dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada konteks inilah, kita mampu melihat arti penting seorang Gus Dur. Berasal dari kelompok yang dinilai tradisional, cucu pendiri NU ini mampu mengelaborasi nilai-nilai Islam untuk selaras dengan perkembangan zaman, sehingga diterima oleh banyak golongan sebagai kebenaran substantif. Bagi kalangan Islam, khususnya kalangan Nahdliyin, Gus Dur mampu mendobrak kejumudan cara berpikir dalam menggali hukum-hukum Islam.

Buku “Pemikiran dan Sikap Politik Gus Dur” karya Ali Masykur Moesa, seorang anak ideologis Gus Dur yang mampu menerjemahkan dan melanjutkan dalam sisi intelektual yang progresif juga dinamis. Dalam pengantarnya, Ali Masykur mencatat, bahwa Gus Dur sesungguhnya bukanlah sosok yang kontroversial, ia justru seorang muslim sejati yang mengimplementasikan nilai-nilai Islam secara membumi. Logika awamlah yang justru seringkali tertinggal dibelakang, sehingga terkesan bahwa Gus Dur adalah sosok yang nyeleneh dan melawan arus, padahal keterbatasan kitalah yang tidak mampu memahami pemikiran dan sikap politiknya.

Buku ini, selain ingin memaparkan akar pemikiran politik Gus Dur, juga ingin membuktikan bahwa pemikiran dan tindakan Gus Dur selama hidupnya bukanlah suatu yang kontroversial. Pemikiran dan tindakannya justru implementasi dari nilai-nilai Islam secara membumi dari seorang Muslim sejati.

Singkat kata, Gus Dur layaknya sebuah teks yang memiliki multi tafsir, sebuah buku besar yang dibaca oleh setiap orang dan membahasnya tidak mudah, baik sebagai budayawan, intelektual, politisi, ulama, ahli strategi dan seorang humoris bahkan seorang pengamat sepak bola. Gus Dur walaupun pergi selamanya, impian dan gagasannya yang besar tetap bersama kita.

*Peresensi adalah Mantan Redpel Majalah ALFIKR IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Retrieved from: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=22298

No comments:

Post a Comment